TKI JUGA BISA MENULIS DAN MENERBITKAN BUKU

Artikel ini sudah pernah diterbitkan di RADAR KEDU – Jawa Pos

TKI JUGA BISA MENULIS DAN MENERBITKAN BUKU

Pengalaman buruk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tidak
menyurutkan niat Anissa Hanifa untuk mengais rejeki di negeri jiran.
Kini, dari kemampuannya, kini ia memiliki prestasi dengan menulis dan
menerbitkan buku. Bagaimana kisahnya?

RHRM / Dhinar Sasongko – Magelang

Nama Lengkap: Anissa Hanifa
Nama Panggilan: Anik, Nessa, Eva
Nama Pena : Nessa Kartika
Umur: 27th
Pendidikan Terakhir: SMKN 1 Wonosobo jurusan Akuntansi 2002
Pekerjaan / Profesi: TKW Singapura
Prestasi : menerbitkan 7 buku, 1 ebook dan 4 buku segera terbit

Melakukan wawancara dengan Anissa dibutuhkan kesabaran. Maklum, ia tengah bekerja berada di negeri jiran,  Singapura. Tidak banyak waktu longgarnya. Komunikasi dengan penulis dilakukan melalui pesan di
jejaring sosial.

Perempuan yang berasal dari dukuh Pasunten Desa Lipursari Kec Leksono Kab Wonosobo itu awalnya adalah TKI di Hongkong. Pada tahun 2003, ia berangkat ke Negara tersebut melalui sebuah PJTKI. Setelah tiga bulan di penampungan Cengkareng, Jakarta, ia berangkat bulan agustus.

“Tetapi baru kerja 15 bulan, tepatnya bulan mei 2004, saya minta pulang. Karena bos saya usahanya bangkrut sehingga stress dan sering mukulin istrinya dan saya,” terang gadis yang akrab disapa Anik.

Setelah pulang ke Wonosobo, akhirnya ia memilih menikah dengan pria idamannya yang tidak lain adalah tetangganya. Pernikahannya dikaruniai seorang anak. Tetapi karena berbagai pertimbangan dan seijin suami, akhirnya pada tahun 2007, ia memutuskan kembali menjadi TKI. Kali ini ia memilih Singapura melalui sebuah PJTKI di Karangayu, Semarang.

Rupanya kali ini dewi fortuna memihak kepadanya. Ia mendapatkan bos yang baik hati. Diantaranya, gadis lulusan SMKN 1 Wonosobo ini bisa menggunakan komputer bosnya surfing didunia maya. “Kalo hari senin sampai jumat, Saya pakai komputer bos. Mereka ijinkan saya asal kerjaan rumah sudah beres. Hari Sabtu dan Minggu saya sibuk. Kalo mau ngecek fesbuknya pake hape. tapi mahal sehingga libur fesbukannya,” ujarnya.

Awalnya, FB digunakannya untuk berkomunikasi dengan keluarga, suami serta anaknya yang sudah berusia 6 tahun. Perempuan 27 tahun yang tinggal di Teck Whye Avenue. Singapura ini menggunakan FB untuk menghapus rasa kangen terhadap keluarganya.

“Tetapi dari FB, ternyata punya banyak kenalan dan akhirnya terdorong untuk berlatih menulis. Gurunya adalah semua kawan FB yang biasa menulis. Kadang kadang menulis buat dibaca sendiri atau buat lomba. Dan beberapa kali menang lomba,” terang Anik.

Kemampuannya menulis diperolehnya dengan cara otodidak melalui FB. Ia rajin mencari informasi adanya lomba menulis dan akhirnya terdorong untuk ikutan. Diantaranya aktif belajar lewat grup ‘Untuk Sahabat’ di fesbuk. “Di forum itu, banyak penulis top yang rendah hati dan mau berbagi dan penulis pemula seperti saya yang sama – sama
belajar. Grup ini dibuat oleh Abang Dang Aji Sidik dari Surabaya,” papar dia.

Saat ini, saya berusaha mengumpulkan TKI Singapura di FB. Awalnya untuk menampung mereka yang suka bidang sastra dan tulis menulis.

Namun akhirnya justru berkembang menjadi tempat curhat. Kini, setidaknya sudah ada 7 buku, 1 ebook dan 4 buku karyanya yang segera terbit. Sistem penjualannya dilakukan secara online. Pembeli harus pesan ke FB penerbitnya. Kecuali yang ebook gratis.

“Insya Allah, 20 feb 2011 ini akan launching buku “Karenina : Singa Bauhinia” di Singapura. Karya bersama teman FB saya, Karin Maulana yang kerja jadi TKW di Hongkong,” terang dia.

Dipaparkan dia, buku ini bukan buku hasil menang lomba, tapi buku yang sengaja dibuat untuk Indonesia. Ia berharap agar bangsa tahu seluk-beluk dan suka-duka kehidupan Buruh Migran Indonesia (BMI /sebutan lain untuk TKI). “Tidak asal mengecap BMI sebatas ‘babu’ saja.

Perjuangan menjadi seorang BMI sangat berat,” aku dia. Anik mengungkapkan jika menulis juga merupakan cara untuk
melarikan diri dari stress di tempat kerja. Sebagai TKI yang terbebani dengan pekerjaan yang tidak habis habis, ia selalu menulis curhatan dan dari situlah ia mulai berani mengirim karya kesana – kemari.

‘Jangan berhenti bermimpi’ adalah kalimat favorit Anik yang akan selalu diucapkan kepada siapa saja. “Siapa yang menyangka, saya yang cuma TKI ini bisa menelorkan buku – buku. Semua serasa mimpi,” katadia.(*)

catatan:
wawancara online via fb, artikel dibantu penulisannya oleh mas Dhinar Sasongko

Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi.Membaca Fiksi (Universal Nikko+mayokO aikO)

BMI Singapura


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: