Dewan PSK (Para Seniman Kota) Magelang

Dewan PSK (Para Seniman Kota) Magelang
oleh Adhang Legowo pada 08 Agustus 2011 jam 23:21

Sekitar bulan Maret 6 tahun yang lalu, saya diajak Fredy Uwek kumpulan di rumah Dani Aronds. Fredy menjemput saya bersama Kang Canthing Margono. Rupanya sesampainya di rumah Dani di sana sudah ada Gepeng Nugroho. Vespa sprinter biru tahun 76 bertuliskan “Sosial Teatrikal” selalu menjadi penanda bahwa disitu ada Gepeng. Keadaan ini serupa dengan mitos “burung gagak dan orang mati”, bahkan lebih meyakinkan malah.

Rumah Dani Arond saat itu sempat menjadi ajang kumpulnya sahabat-sahabat pecinta seni peran, tiap Sabtu malam, 2 minggu sekali. Mereka mengekspresikan “hajat berkesenian” yang meledak-ledak itu. Saya kira lengkap yang berkumpul di sana, mulai anak usia SD sampai manusia seusia bocah tua nakal. Mereka membaur dan berekspresi di sudut halaman di samping rumah itu. Jujur saya merindukan media ekspresi semacam itu. Karena disana siapapun tak memiliki beban-beban struktural yang selalu memantulkan angka-angka dan perdebatan-perdebatan memilukan. Juga tak harus menunjukkan identitas-identitas prestasi apapun di bidang seni. Pokoknya siapa saja, siapapun & walau mereka bukan siapa-siapa.

Di rumah yang berada di Blondo itu, kami berbincang-bincang tetang sesuatu yang baru saja mengikat dan memaksa kami untuk selalu berfikir tentang kesenian, DKKM. Ya, Dewan Kesenian Kota Magelang. Sebuah kumpulan orang-orang yang diberikan beban untuk menjadi “pamomong jabang budaya”, demikian retorik yang sempat muncul saat berdirinya DKKM. Saya masih menyimpan senyum – dibalik sejarah berdirinya DKKM – kronologi dan asbaabun nuzul terjadinya cukup unik dan mungkin sama sekali berbeda dengan dugaan dan harapan2 sementara orang terhadap kumpulan pamomong ini.

Dani Arond memulai perbicangan, bahwa ia diamanati untuk mengumpulkan beberapa anggota untuk merancang bentuk dan medan kerja DKKM secara organisatoris. Dengan gamblang ia menggelar dua lembar kertas manila putih di dinding. Di sana telah tersusun kolom-kolom untuk mengidentifikasi organisasi yang baru ini. Ya, memang baru, sebab diantara kami bahkan semua anggota belum pernah sekalipun menjadi anggota sebuah Dewan Kesenian, di manapun. Dani memang seorang yang sangat imajiner, ia mampu membuat kami menyusun kata-kata di atas kertas manila putih itu layaknya melukis. Tentu saja saya lupa dg detil yg tertulis di media kertas itu. Namun kertas itu menunjukkan gambar yang utuh tentang “jabang bayi” yang baru lahir itu. Lukisan itu sepertinya terekam dalam benak kami, karena sebuah kata yang kami gunjingkan cukup panjang. Kata itu adalah; “Dewan”.

Tentu saja berkat gambar Dani, kami bisa sedikit membedakan “Dewan” dengan gambar-gambar lain yang mirip. Seperti kata, “Departemen”, “Dinas”, “Badan”, “Komisi”dan “Panitia”, bahkan kami bisa membedakan antara “Ketua” dengan “Kepala”. Rupanya gambar-gambar itu sangat mempengaruhi prespektif dan alur bergunjing kami. Satu-satunya kata “Dewan” yang kami rujuk berakar pada Dewan Perwakilan Rakyat, karena merujuk pada Dewan Jendral sudah barang tentu kami tebelenggu sejarah. Selain itu juga kami mengoleksi Dewan Kehormatan dan Dewan Pendidikan.

Menurut gunjingan kami rupanya dewan itu lebih mirip sebuah kumpulan orang-orang yang memiliki tugas untuk mengakomodir beberapa hasrat atau kepentingan. Yang kemudian mereka menghasilkan produk kebijaksanaan-kebijaksanaan. Minimal me-mediasi antar pihak, ide atau kemauan. Tentu saja demi mengakomodir hasrat dan kepentingan itu tadi. Dan , sepertinya dewan tabu melakukan sesuatu yang bersifat aksi untuk mewakili dirinya (lembaganya) sendiri, dimana yang terlibat juga hanya personil-personil di dalamnya. Sekali lagi Dani memberikan pembanding berupa “Departemen” hingga “panitia”. Menurutnya aksi atau kerja departemen mewakili lembaga atau dirinya sendiri apalagi panitia. Mereka hanya memiliki beban satu pintu yaitu karya atau kinerja. Sedangkan adanya Dewan, harus mewakili sekerumunan sesuatu.

Susunan tubuh Dewan itu sendiri memang terdiri dari sekumpulan orang-orang yang mewakili sekerumunan sesuatu. Ibarat bidak dakon Dewan adalah 2 lubang terbesar di samping kanan dan kiri. Tanpa biji dakon, maka tak bermaknalah dua lubang itu. Saya curiga dan benar-benar curiga bahwa kata dasar dewan itu dapat ditelusuri dari tipologi kata-kata sebutan jawa seperti Mertoyudan, Potrobangsan atau Badaan. Dimana kata “an” yang diimbuhkan mengidentifikasi kata tempat. Dimana Dewan adalah tempat para Dewa. Semoga kecurigaan saya salah.

Alur pergunjingan kami malam itu layaknya terlena dengan kenikmatan kopi robusta jawa yang langka dan telah disarikan oleh luwak. Waktu yang mahal tidak setara dengan kenikmatan kopi gunjingan kami. Pintu kata “dewan” telah menjadi juru kunci yang membawa kami pada maqom2 pergunjingan yang nglantur seperti membaca puisi. Tak terasa Kang Canthing & Fredy Uwek tiba-tiba mengakomodasi semua khasanah kesenian Magelang. Mereka turut mencoretkannya di kertas Dani. Tiba-tiba juga Dani Aronds mengangkut Gunung Tidar di kertas itu dan dihias oleh Gepeng dengan sebuah kata yang mengejutkan “Cagar Budaya”.

Edan ! dua kata itu sungguh mempesona kami, ribuan puisi Gepeng rasanya terwakili cukup dalam pesona dua kata itu. Naskah-naskah skenario yang memeras kecerdasan teatrikal Gepeng teriluminasi dengan kata; Cagar Budaya. Saat menyebutkannya seakan-akan saya mendengar dentuman gong yang menggelegar. Di tangan keempat orang ini, “bayi budaya” ini seperti telah menemukan bentuk. Seketika seperti tersadar bahwa kami selama ini makan, minum, tidur dan – maaf – buang hajat, di atas tanah yg telah memiliki sejarah tua bahkan nyaris purba. Di saat yang sama kami sadar untuk kedua kalinya, bahwa jejak-jejak itu nyaris tak “merasuki” jiwa-jiwa penduduknya, termasuk saya.

Saat itu, rasanya inilah misi penting dari “bayi” Dewan Kesenian Kota magelang. “Menyurupi” kembali kepala-kepala penduduknya bahwa mereka hidup diatas tanah yang memiliki sajarah yang tua. Pada kolom2 yang telah Dani siapkan itu rupanya juga telah disiapkan sebuah kolom yang melukiskan rencana aksi. Ketika misi besar telah kami gunjingkan maka sungguh lucu bila kita tak menggunjingkan upaya-upaya-nya. Setelah “rasa” maka “karsa”. Kalau hanya bergelut dg “rasa” maka kami takut dituduh sedang melakukan “onani wacana”. Sungguh malu rasanya.

Menyadarkan kembali orang2 seperti saya, akan tanah tua ini, cukup menyita pergunjingan. Karena saat kang Canthing dan Fredy melakukan inventarisasi kesenian yang “tersisa”, sungguh sangat miris, kami tersadar bahwa selama ini kita tak memiliki identitas. Kecuali terselamatkan oleh gunung Tidar, Gethuk dan AKMIL. Gunung Tidar, identitas geografis. Gethuk identitas kuliner. AKMIL jelas identitas tentara. Lalu kemana identitas berkesenian kita ?

Lalu kami lari pada ketuaan batu prasasti Mantiasih. Cukupkan identitas kesenian disematkan pada batu? Atau nekat untuk banting setir kepada sejarah Diponegoro ?, ah yang terakhir ini kan malah meninggalkan kepiluan tentang penghianatan dan keculasan bangsa asing, yg sekarang ini masih terus berlanjut. Dalam kertas itu kami menggambar-gambarkan beberapa simbol; prasasti Mantiasih, gunung Tidar dan gethuk. menurut Dani, untuk memunculkan khasanah identitas kesenian kita, harus dimulai dengan sesuatu yang baru dan mempertemukannya dengan simbol2 tadi.

Malam itu sekali lagi ideologi Sosial Teatrikal kembali mengejutkan majelis pergunjingan kami. Gepeng menyasar HUT Kota Magelang untuk digarap dengan mempertemukan simbol-simbol prasasti Mantiasih, Gunung Tidar dan Gethuk. Dalam waktu sedemikian singkat kepala Gepeng mengeluarkan skenario-skenario tanpa naskahnya, ia menggabarkan sebuah kirab dengan mengangkat sebuah epos terjadinya Magelang dan sebagai puncak acara diadakan Grebeg Gethuk. Lagi-lagi saya mendengar gong yang menggelegar.

Maka bila anda pernah menyaksikan perhelatan HUT Kota Magelang yg serupa Epos, maka itu adalah karya Sosial Teatrikal Gepeng Nugroho plus Kang Canthing, Fredy Uwek dan Dani Arond. Dari pergunjingan yang serupa mabuk itu, maka keinginan untuk mencari identitas kesenian Kota Magelang dimulai. Seperti setrum, menyengat kepada pelaku seni di Kota Magelang. Bahkan identitas gethuk telah menitis pada wayang yang diperebutkan itu.

Diakui atau tidak pergunjingan malam itu telah membuat icon gethuk menjadi sebuah varian kesenian. Sesuatu yang barangkali tak pernah disadari oleh keempat orang itu. Adapun ter-ekspresi dalam bentuk “sengketa” itu hanya sebuah dinamika. Tak boleh melemahkan setrum kepada para pekerja seni Kota Magelang untuk terus mencari identitas.

Ke-dewan-an DKKM mestinya kelak, mampu mengakomodasi “hajat” berkesenian penduduk tanah tua ini. Meskipun PR besarnya adalah menumbuhkan dahulu keinginan ber”hajat”nya. Semoga gambar Dani di kertas manila itu, benar2 menjadi bentuk Ke-dewan-an yang seungguhnya. Dan tentu saja tetap harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam pola ke-birokrasi-an yang sangat hobi dengan kepanitiaan-kepanitiaan. Yang berpangkal pada ideologi “ke-proposal-an”.

Grebeg gethuk hanya sekedar media, bukan tujuan tentu saja. Saya yakin kelak akan muncul ide-ide yang lebih mabuk dari Grebeg Gethuk. Sehingga DKKM menjadi dua lubang besar dakon yang mampu mengumpulkan sebanyak-banyaknya bijih dakon. Artinya siapapun pemainnya, sebelah mana lubang besar dakon-nya, bijih dakon harus tetap banyak dan terkumpul dalam Ke-Dewan-an DKKM. Semoga DKKM menjadi ruang yang hangat dan menggairahkan bagi PSK (Para Seniman Kota) Magelang.

Salam Budaya…!


2 responses to “Dewan PSK (Para Seniman Kota) Magelang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: